Tangis Duka Negeriku

Sore hari aku termenung sendirian. Menatap indahnya padi yang telah menguning di pematang sawah. Oh Tuhan, betapa suburnya negeri ini. Benar apa kata orang bahwa negeri ini adalah negeri surga. Batang singkong saja dilempar bisa menjadi makanan. Betapa beruntungnya penduduk di negeri ini. Aku bersyukur kepada Tuhanku.

Kutatap lamat-lamat hamparan padi yang menguning di depanku. Bergoyang-goyang diterpa hembusan angin. Di ujung barat sinar mentari kian redup dan bersiap istirahat di peraduannya. Sejauh mata memandang satu dua petani menunduk merawat padinya. Wajahnya tampak tenang. Ia kelihatan bahagia. Sempat aku berfikir betapa nikmatnya hidup para petani. Hidupnya sederhana. Hatinya tenang. Jiwanya damai. Tentu tidak ada hal yang harus dipikirkan banyak-banyak. Anak dan istri telah makan itu sudah cukup baginya.

Sementara aku yang bujang, hidupku teramat sumpek. Banyak pemikiran, tepatnya banyak pikiran. Mana harus memikirkan statusku yang bujang. Mana harus memikirkan negeri ini yang kian hari kian carut marut, kekayaan alam yang tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat.

Sore ini aku menangis memikirkan negeriku. Betapa kejamnya para tikus-tikus berdasi itu. Rakyat yang berada di negeri yang kaya ini harus menderita kelaparan sebab koruptor. Banyak rakyat yang putus sekolah gara-gara koruptor. Angka kemiskinan meningkat kilat. Hutang negara melambung tinggi tak terkendali.

Aku menangis memikirkan negeri ini. Setetes air mata adalah sesayat luka yang bersarang di dalam hati.

Inilah aku. Seorang mahasiswa yang hanya bisa berkoar-koar mengkritik pemerintah yang tidak adil. Inilah aku seorang pelajar yang hanya bisa mencari dan mengumpulkan data fakta untuk diajukan kepada pihak pengadilan. Tapi apalah daya jika semua percikan-percikan kritikku hanya menjadi obrolan saja di kursi pemerintah. Tak ada tindak lanjut.

Cukup lama aku duduk. Menikmati tangisku. Menikmati tangis duka bangsaku tercinta ini. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sosok misterius yang mendadak muncul di hadapanku. Orang itu tersenyum, tepatnya menyeringai. Sesaat kemudian orang itu tertawa terkekeh-kekeh.

Aku terkejut.

Ia lalu duduk di sebelahku. Menepuk-nepuk bahuku. Ia kembali terbahak-bahak.

Aku bingung dan tidak mengerti.

“Anak muda-anak muda. Untuk apa kamu memikirkan bangsa ini? Bangsa ini telah dikuasai oleh tikus-tikus berdasi dan berkopyah hitam. Bangsa ini hanya menjadi bualan janji para penguasa.” Orang itu berhenti sejenak, mengambil rokok dari sakunya. Aku kaget bukan main. Rokoknya besar sekali. Persis seperti paralon. Panjangnya sekitar satu meter. Tempat isapannya tumpul. Ujung rokoknya lancip. Lagi-lagi aku menatap bingung rokok itu. Orang itu mengambil korek, menyalakan api dan membakarnya.

Ia menghisap kuat-kuat sampai-sampai kedua pipinya membentuk cekungan. Lalu orang itu kembali melanjutkan kalimatnya.

“Hukum di negeri ini seperti rokokku anak muda. Para penegak hukum pilah-pilih dalam menjalankan hukum. Dia akan berkata ‘tegakkan keadilan secepatnya’ jika berhadapan dengan rakyat bawah. Namun jika berhadapan dengan orang ber-uang maka dia akan berkata ‘kami masih mencari data yang valid. Harap bersabarlah.” Dia berhenti hanya untuk tertawa terkekeh. Lalu kembali mengisap rokoknya yang besar itu.

Aku mengangguk paham. Namun masih bingung dengan kemunculan orang yang secara tiba-tiba itu. Aku menatap pematang sawah. Orang itu ikut menatap kedepan. Menikmati indahnya sawah yang bertabur warna kuning dicumbu sinar mentari yang hampir tumbang di ujung barat.

“Hei anak muda,” Orang itu menatapku.

Aku menoleh dan sontak menjawab “Iya, orang misterius.”

Dia kembali tertawa. Namun tawanya berbeda. Tawanya sekarang seperti orang meremehkan. Iya, aku menangkap jelas dari tawanya itu.

“Kamu tahu siapa orang yang pertama kali korupsi di negeri ini?”

Sontak aku menggeleng. Menatapnya penuh penasaran.

“Ja-wa-rezzz.” Dia menyebutnya secara perlahan. Seperti anak SD yang baru belajar membaca.

“Jawarezzz.” Aku mengulangi.

Ia mengangguk sinis.

Aku diam. Menunggu suara orang itu selanjutnya.

“Dan aku tahu siapa kamu. Kamu adalah Dez-ham-bezzz.”

Aku menatapnya bingung. Dimana orang itu tahu namaku.

“Kamu tahu dengan tim FISIKA? Sebuah forum sembunyi-sembunyi yang tidak formal. Kamu tahu siapa ketua timnya?”

Aku diam tidak menjawab.

“Sudahlah tidak perlu berbohong. Dan kamu adalah ketua timnya, bukan?” Orang itu tertawa.

Aku semakin bingung. Aku bertanya-tanya, dari mana ia tahu dengan statusku dan status forumku. Padahal FISIKA benar-benar aku sembunyikan. Dan pergerakannya bergerak secara diam-diam.

Tiba-tiba orang misterius itu membuka jaznya. Dibaju dalamnya tertulis nama JAWAREZZZ. Orang itu tertawa bangga.

“Aku adalah Jawarezzz. Orang pertama yang melakukan korupsi dinegeri ini. Jika kamu adalah ketua tim FISIKA maka aku adalah ketua tim S2.”

“S2?” Aku menyebut istilah itu. Lebih tepatnya bertanya.

“S2 adalah induk dari segala forum kegelapan.”

Dia berhenti. Mengisap kembali rokoknya yang aneh itu. Aku diam. Berusaha menyelidik apa orang ini waras atau tidak.

“Anak muda-anak muda. Aku kagum kepadamu. Kamu adalah mahasiswa terpandai yang pernah kulihat. Kamu menjalankan tugasmu dengan sepenuh hati tanpa ada embel-embel uang dan upah. Kamu mengerjakan tugasmu dengan tulus. Dan, kamulah orang yang paling hebat dalam mengumpulkan data bukti.” Orang itu kembali menepuk-nepuk bahuku. Aku diam saja. Orang ini tau jelas tentang aku. Lalu siapakah dia? Aku bingung. Apakah ini intel para koruptor? Mata-mata tingkat tinggi dari agen gelap? Aku benar-benar terperangkap dalam rasa penasaran.

“Data yang kusembunyikan dan kututup rapat-rapat telah kau temukan. Kemudian kau kaji dan analisis untuk dijadikan sebuah laporan kepada pihak penegak hukum. Hebat kamu anak muda.” Orang misterius itu mengacungkan jempol. Aku terheran-heran dibuatnya.

Sampai saat ini aku masih terbungkam. Tak mampu bersuara.

Dia diam. Aku jangan ditanya lagi.

Cukup lama kami terdiam.

Tiba-tiba dia bersuara lagi setelah menghisap rokoknya.

“Tapi sayang seribu sayang, kerjamu harus berujung dengan sia-sia. Tim kami telah mengetahui datamu. Tim S2 telah mengetahui laporanmu. Kamu tahu apa yang dilakukan aku dengan timku disaat kamu membeberkan laporanmu panjang lebar dengan bahasa yang tertata rapi ala mahasiswa?” Dia menatapku sinis. Aku diam.

Aku sengaja membiarkan dia mengeluarkan apa yang mereka ingin keluarkan. Karena aku merasa banyak hal yang aku dapat darinya. Meski bingung dan setengah tak percaya.

“Aku dan timku tertawa wahai anak muda. Kamu hanya akan mendapatkan lelah karena kami telah memiliki badan pelindung bagi para koruptor. Dan kami telah bekerja sama dengan para penegak hukum yang rakus dengan uang. Kami jaya karena kami telah membentuk tim S2. Tim S2 itu adalah “SE-GI-TI-GA-SE-TAN.”

“Kamu tahu apa itu Segitiga Setan?” Dia kembali tertawa sinis. Aku mengusap dada mendengarnya. Hampir saja aku emosi. Cepat-cepat aku ingat bahwa mahasiswa adalah agent of control.

“Segitiga Setan adalah tim kegelapan kami wahai anak muda. Segitiga Setan adalah induk organisasi kami wahai anak muda. Segitiga setan adalah simbol kami wahai anak muda.”

“Simbol.” Aku mengulang kata itu tanpa suara.

Dia tertawa.

“Dengarkan penjelasanku anak muda. Segitiga Setan memiliki tiga sisi. Sisi bawah kanan diisi oleh forum FDSK. Forum yang di dalamnya berupa komplotan para koruptor yang saling bekerja sama. Kamu tahu siapa ketuanya wahai anak muda?”

“S-I-L-H-A-E-M.” Aku menyebut ulang nama itu. Aku terkejut mendengarnya. Menggeleng tidak percaya.

Orang itu tertawa bangga. Seolah telah berhasil mengalahkan lawannya.

“Kenapa kaget wahai anak muda? Bersabarlah karena orang yang sedang kamu buru dan yang ingin kamu penjarakan adalah orang tuamu sendiri.” Orang itu berkata sambil menyodorkan album foto.

Kuambil album foto itu. Kubuka lembar demi lembar album itu. Oh Tuhan, aku hampir tidak percaya melihatnya. Aku tatap orang itu sambil menggeleng.

“Sudahlah anak muda. Itu adalah bagian dari kenyataan. Banyak orang yang berjuang menumpas para koruptor tapi sayang orang yang ingin ditumpas itu adalah bagian dari darahnya sendiri. Itu adalah realitas hidup. Jadi, biarlah semuanya berlalu dan berjalan sesuai dengan kodratnya sendiri.”

Aku tertunduk lemas.

“Sisi bawah sebelah kiri diisi oleh forum LPK yang didalamnya berisi kerja sama antara komplotan para koruptor dan para penegak hukum yang gila uang dalam rangka mengisi perut. LPK itu adalah Dewan Perlindungan Koruptor. Dengarlah anak muda. Dan kuharap kamu jangan terkejut. Ketua tim LPK adalah DUL-KI-EM. Rektor universitas dimana kamu kuliah. Dosen yang tiap harinya memberikan semangat juang untuk menumpas komplotan koruptor.”

Aku kembali dibuatnya menggeleng tak percaya. Hari ini aku seperti berada di alam mimpi dan berharap semua ini adalah sebuah mimpi.

“Dan, sisi yang paling atas…” Orang itu diam. Sesaat kemudian tertawa sinis lagi.

“Kamu penasaran dengan taktik kami yang tersistem, bukan?”

Aku diam tak menjawab. Tidak juga mengangguk dan tidak juga menggeleng.

Sesaat kemudian wajah orang itu terlihat garang. Matanya merah. Rokoknya yang panjang dan besar dihisap kencang-kencang dan dikeluarkan kuat-kuat. Kini bukan hanya mulut dan hidungnya yang mengeluarkan asap tapi telinga dan matanya juga mengepulkan asap. Lihatlah, wajahnya persis seperti monster.

“Dan sisi segitiga yang paling atas adalah DKK. DKK itu adalah Dewan Kader Korupsi wahai anak muda. Itulah tujuan puncak kami. Karena kami ingin mengubah negeri ini menjadi negeri korupsi.” Aku diam menahan emosi, berusaha mengontrol.

“Kamu tahu siapa ketua DKK?”

Aku menggeleng penuh kebencian.

“Kiai BAR-MEN-TOS-TIS-KU-LA-LO.”

Astagfirullah. Aku kaget bukan main. Dialah Kiai yang selalu memberiku butir-butir nasehat lewat rangkaian kata-katanya yang indah dan tersusun rapi. Wajahnya teduh dan menyenangkan. Menatapnya seperti dialiri setetes embun di balik jiwa kering-kerontang. Tapi dia…

Oh, Tuhan, kenapa semuanya jadi begini?

“Dan aku sebagai ketua Segitiga Setan akan membunuh siapa saja yang menghalangi langkahku.” Orang itu berhenti. Asap rokoknya terus keluar tak berhenti. Matanya melotot sambil mengeluarkan asap.

Aku semakin terheran-heran dengan orang misterius itu.

“Satu pesan buat kamu wahai anak muda, berhentilah menghalang-halangi perjalanan kami! Atau kalau tidak maka hidupmu akan menderita sampai selamanya. Camkan itu!”

Seketika itu ia meninggalkanku. Membuang ludah ke samping kiri. Sebentar kemudian ia melirik ke arahku dan bersamaan dengan lirikannya tiba-tiba benda kecil telah menempel di dada kananku. Saat itu juga dunia gelap. Pikiranku tak sadar. Entah apa mati apa pingsan. Saat itu aku tidak tahu dan tidak tahu. Tapi aku berharap hidup, seperti aku berharap tangis duka negeriku menjadi senyum indah penuh warna di bawah naungan cahaya pemimpin yang menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan keadilan.

Chat Admin