Cerita pendek ini terinspirasi dari lagu Amin Paling Serius yang disenandungkan oleh Sal Priadi dan Nadin Amizah.
“Aku mau batalin pernikahan kita.”
Bara hampir menyemburkan teh manis yang baru saja diseruputnya ketika suara itu terdengar. Ia terkekeh pelan menanggapi ucapan gadis di hadapannya.
“Nah, becanda yang ini kurang lucu. Kamu harus belajar sama Kiky Saputri.”
“Aku nggak becanda, Bar.”
“Ekspresi wajah dan suara kamu udah pas, tapi aku nggak mau becandanya kayak gini. Serem, Ra.”
“Bara, aku serius. Aku nggak mau nikah sama kamu.”
“Udah, Alara. Aku nggak mau becandain soal nikahan kita,” ucap Bara tegas. Matanya mulai menatap Alara serius.
Alara menghela napas pelan. Pandangannya lurus ke depan, balas menatap kedua manik hitam milik laki-laki yang satu tahun belakangan ini memenuhi hari-harinya. “Keluarga besarku nggak setuju dengan pernikahan kita.”
“Bukannya kita udah ngobrol sama orangtua kamu dan mereka udah ngasih restu? Dua minggu lagi kita sah, Ra. Nggak usah ngelindur.”
“Iya, mereka ngasih restu, tapi itu sebelum keluargaku tau orangtuamu narapidana.”
“Ra—“
“Kamu bohongin aku, Bar. Kamu bilang ayah dan ibumu udah meninggal,” potong Alara cepat. Ia tertawa sumbang, “mau tau fakta apa yang didapetin papa aku beberapa hari lalu?”
Bara terdiam. Ia tak mampu berkata-kata. Namun, kedua matanya masih menatap gadis cantik itu.
“Ayahmu pembunuh dan pengedar narkoba, ibumu pencuri dan penipu,” lanjut Alara. “Kalau kamu jujur dari awal, mungkin aku akan berusaha paham posisimu dan pertahanin hubungan kita. Aku juga bisa bantu kamu jelasin ke orangtuaku, tapi gimana aku bisa bangun rumah tangga bareng kamu, sedangkan kamu bohongin aku selama ini? Aku nggak bisa tidur mikirin ini, Bar. Keluargaku terus mendesak aku untuk batalin pernikahan kita. Aku coba renungin sendiri dan mencoba percaya sama kamu, tapi akhirnya aku mikir. Gimana bisa aku serahin hidupku ke kamu dengan ketidakjujuran dan latar belakang keluargamu yang seperti itu?”
“Maaf, Bara. Aku nggak bisa lanjutin hubungin ini.”
Embusan asap rokok keluar dari mulut laki-laki yang kini sedang duduk di teras rumah. Entah sudah berapa banyak nikotin yang diisapnya. Malam yang sunyi dan dingin semakin membuat pikirannya berkelana. Sesekali ia tersenyum kecut. Mengasihani dirinya yang tak pernah beruntung sedari kecil.
Bara terlahir dalam keluarga yang jauh dari kata cukup perihal perekonomian. Hubungan ia dan kedua orangtuanya pun tidak dapat dikatakan harmonis. Sedari kecil, ia sudah merasakan sakitnya pukulan yang diberikan ayahnya saat mabuk. Mendengar makian dan segala kata-kata kasar dari ibunya sudah seperti makanan sehari-hari.
Ia besar di tengah-tengah lingkungan yang membuatnya muak. Tidak ada kedamaian. Hari-harinya dihiasi dengan teriakan kemarahan, benda yang dibanting, dan berakhir dengan suara rintihan kesakitan sang ibu.
Hingga saat ia berumur 15 tahun, ayahnya harus mendekam dalam penjara. 3 tahun kemudian, ibunya menyusul sang ayah masuk ke dalam jeruji besi. Bara tertawa sumbang mengingat masa-masa itu. Rangkaian peristiwa kelam yang pernah dilewati membuatnya harus menjadi sosok tangguh.
Sampai akhirnya ia bertemu Alara satu tahun lalu. Bara yang saat itu berumur seperempat abad, usia yang menurutnya cukup matang dan dirinya sudah siap untuk mengenal cinta. Ia terpikat akan pesona Alara.
Gadis itu tidak hanya cantik. Tutur katanya yang lembut dan sopan membuat Bara ingin mengenal Alara lebih jauh. Alara selalu menghargai apa yang dilakukannya. Kehadiran Alara menjadi alasan Bara berhenti mengutuk hidupnya.
Jauh berbalik dengan Bara, Alara terlahir dalam keluarga yang berkecukupan dan harmonis. Jika Bara harus bersusah payah mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, maka Alara tidak akan merasakan lelahnya mencari lowongan karena orangtuanya-lah yang menyediakan lapangan pekerjaan.
Jika Bara tumbuh di tengah badai yang merusak, maka Alara dibesarkan dengan keindahan rembulan yang memanjakan.
Jika Bara adalah gemuruh petir yang menakutkan, maka Alara adalah rintik hujan yang menenangkan.
Kehidupan keduanya bertolak belakang. Namun, Alara selalu punya cara untuk membuat Bara merasa cemerlang dengan kalimat-kalimat positif yang diberikannya.
Bara takut kehilangan Alara, sampai ketakutan itu mengharuskan ia berbohong dan menutupi cerita hidup yang sebenernya, lalu ia menulis alur kisahnya sendiri untuk didongengkan pada Alara.
Bara kembali mengembuskan rokoknya. Dadanya semakin sesak saat rasa penyesalan itu muncul. Memang salahnya telah berbohong pada gadis itu. Ia mengaku.
Bahkan amin paling serius yang selalu dipanjatkan pun, tidak mampu membuat Tuhan mengabulkan doa-doanya.
“Maaf, Ra.”
-SELESAI-