K-A-N-G-E-A-N.
Inilah tanah kelahiran kami. Tanah dimana kami mengenal arti persatuan.
K-A-N-G-E-A-N.
Inilah tanah tumpah darah kami. Tanah dimana kami belajar makna kebersamaan.
I-N-D-O-N-E-S-I-A.
Terima kasih telah mengajari kami persatuan. Kepulauan kami memang terpencil tapi rasa nasionalisme kami jangan ditanya.
I-N-D-O-N-E-S-I-A.
Terima kasih telah mengajari kami kebersamaan. Kepulauan kami memang tidak dikenal tapi jiwa patriotisme kami jangan diragukan.
K-A-W-A-N.
Kamilah anak kepulauan yang jauh terpencil. Kamilah anak kepulauan yang mencintai Indonesia. Kamilah anak kepulauan yang berjuang mati-matian melawan nasib. Kamilah anak kepulauan yang akan meneruskan perjuangan bapak-bapak pendiri bangsa.
I-N-D-O-N-E-S-I-AAAAAAA.
Kami datang untukmu. Sambutlah kami.
I-N-D-O-N-E-S-I-AAAAAAA. Kami berjuang untukmu. Izinkan anak kepulauan ini mencintaimu. Anak kepulauan adalah bagian darimu, bukan?
Kawan.
Lihatlah kami sekarang.
S-u-k-s-e-s.
Kamilah anak kepulauan yang belajar di sekolah terbelakang. Anak kepulauan yang berusaha menyalakan lampu kecil di dalam hati. Anak kepulauan yang terus berjuang dan berjuang demi menggapai impian.
Jika kalian mencintai hasil maka cintailah proses. Jika kalian mencintai kemenangan maka cintailah perjuangan.
Rangkaian kata itu yang selalu membangunkan jiwa kami dari lelapnya kemalasan. Butiran kata itulah yang mengangkis kami dari derita kebodohan. Sederet kata itulah yang diucapkan oleh guru kami. Pahlawan kami.
Kawan.
Saksikan masa-masa konyol kami. Masa konyol yang nantinya akan membuka gerbang semangat baru untuk mengenal makna perjuangan. Kami akan membuktikan bahwa tidak hanya anak daratan yang bisa mencintai Indonesia. Inilah kisah kami, kisah empat orang yang berjuang mewujudkan impian the founding fathers.
***
SD HIA-HIU I
Itulah nama sekolah kami. Sekolah kami jauh sekali. Berkilo-kilo dari rumah reot yang kami huni. Sekolah kami terpencil. Jarang sekali ada yang mau mengunjungi. Sekolah kami terbelakang. Dindingnya terbuat dari papan, tidak beratap, dan guru kami menjelaskan di depan hanya memakai kapur tulis.
Tapi jangan tanya semangat kami. Jiwa kami bergelora meletup-letup sepanjang siang dan malam. Semangat kami menyala bagai lampu kecil di dalam hati yang sinarnya kian terang dan cerah dari hari kehari.
Merah putih. Itulah seragam yang kami pakai. Sepanjang jalan kami selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bahagianya bukan main karena hafal lagu itu. Meski jalan yang kami lalui berliku, penuh tanjakan, curam dan teramat berbahaya.
Jalan kami ke sekolah penuh bahaya. Dan bahaya tingkat akhir adalah menyeberangi sungai dengan jembatan bambu yang terbentang memanjang. Hanya tali yang menjadi pegangan kami. Di bawah sana kawanan buaya sedang menunggu di balik sungai keruh dan dalam itu.
Mengerikan kawan. Nyawa taruhannya. Tapi lihatlah, kami tidak pernah gentar sama sekali. Hanya satu alasan.
M-e-n-u-n-t-u-t i-l-m-u.
Dengarkan anak-anakku, bukan sekolah yang harus besar, tapi hati, hati, dan hati.
Kalimat itulah yang selalu menyalakan lampu di dalam hati kami. Nasehat singkat itulah yang membuat kami persetan dengan kata m-e-n-y-e-r-a-h. Nasehat yang keluar dari hati seorang guru.
Pak Jawarez. Iya, itulah satu-satunya guru di sekolah kami. Kami ingat dengan wajahnya yang jika tersenyum bukan membuat kalian senang tapi kalian pasti dijamin mau mengamuk.
Tapi wajahnya kontras sekali dengan hatinya. Wajahnya memang membuat orang tertekan batinnya saat menatapnya, tapi hatinya jangan ditanya. Menurut kami dialah satu-satunya manusia yang berhak mendapat gelar pahlawan tanpa tanda jasa di dunia ini.
Sungguh.
Bayangkan saja, ia tidak digaji. Tapi tidak pernah lambat ke sekolah. Setiap hari mengajar tanpa henti. Yang diajari hanyalah satu kelas. Benar saja karena sekolah kami hanya memiliki satu kelas.
L-i-m-a b-e-l-a-s. Iya, kelas kami hanya terdiri dari lima belas murid.
Tidak lebih.
***
Renungilah kisah kami, bersiaplah menyambut cahaya kecil di dalam jiwa kalian. Kisah konyol yang mengantarkan kami ke dalam terminal perjuangan berikutnya.
Kamilah Pecengsang Ying, Bautistantin Keritantil, Haphap Khan, dan Suzukieks.
Bautistantin Keritantil.
Dialah teman dekatku yang kocak. Bicaranya banyak, pantas saja gigi depannya besar-besar. Akibatnya mulutnya agak maju sedikit. Kalau tertawa, yang lain pasti akan ikut tertawa. Bukan tertawa karena apa, tapi karena melihat tawa dia.
Sebenarnya Bautistantin Keritantil bukanlah nama aslinya. Nama asli dia adalah Keri. Hanya saja karena kakinya penuh dengan bekas-bekas koreng seperti baut yang tertancap erat maka ia dijuluki si baut berjalan. Dan seiring dengan berkembangnya zaman yang dimana perubahan selalu tercipta, maka dia mengumumkan perubahan namanya menjadi Bautistantin Keritantil. Entah dari mana bocah kocak itu memungut nama barunya. Dan perubahan nama itu dibarengi dengan tasyakuran besar-besaran. Dan sebagai korbannya adalah ayam betina milik neneknya yang sedang mengeram itu ia sembelih dengan alasan ia bisa meramal bahwa anak ayam itu jika lahir akan menjadi anak ayam yang durhaka kepada bundanya alias induknya.
Kabar baiknya, Baut tidak susah mencari teman. Ia lelaki yang pandai bergaul. Kebanyakan teman-temannya dari kalangan orang yang banyak masalah. Alasannya sederhana. Baut menjadi orang bermanfaat. Mereka hanya butuh tawa Baut. Terhibur sudah teman-temannya.
Berteman dengan Baut tidak pernah lepas dari masalah. Tepat pada suatu hari ia mengajakku mencari baju putih yang biasa digunakan ibu-bu melakukan shalat. Kami mencuri di surau Ki Orbus. Tokoh masyarakat yang mengajari kami mengaji. Guru ngaji yang tidak pernah tersenyum ketika mengajarkan Alquran kepada kami. Siwak besar seukuran lengannya tidak pernah ia lupakan ketika mengajar. Anehnya, setiap kami salah ia pasti menggosok giginya yang tinggal dua itu. Entahlah, berapa kali ia menggosok giginya dengan siwak selama mengajar. Apalagi si Baut, ketika membaca Alquran pasti dibuat-buat salah. Satu ayat saja sampai diulang tujuh kali. Jadinya, Ki Orbus harus menggosok giginya berulang-ulang. Hidungnya mendengus-dengus kewalahan. Teman-teman menahan kuat-kuat tawanya.
Malam itu, aku, Baut, Haphap Khan, dan Suzukieks mengendap-ngendap masuk ke dalam surau Ki Orbus untuk mencuri baju shalat Nyi Kongkeng. Istri Ki Orbus. Ah, Baut berani sekali. Nekatnya bukan main. Aku, Haphap Khan, dan Suzukieks ketar-ketir menunggu di luar. Baut masuk dengan santai sambil bersiul-siul, menatap enjoy kanan-kiri.
Besoknya kami merancang rencana konyol Baut. Sepakat sudah kami membuat orang-orangan untuk ditaruh di persimpangan jalan yang gelap. Menurut orang-orang, jalan itu sangat angker.
Dan benar, pada malam harinya kami menaruh orang-orangan itu secara sembunyi-sembunyi. Lima menit berlalu. Neng Niaya, putri kedua Ki Orbus melintas. Tepat pandangannya mengarah ke tempat yang kami pasangi orang-orangan ia berteriak histeris. Berlari sambil menangis. Baut tertawa terkekeh. Aku, Haphap Khan, dan Suzukieks panik bukan main. Itu putri Ki Orbus. Bagaimana ini. Bisa panjang urusan.
Beberapa menit kemudian dari kejauhan Pirda berjalan santai hendak melewati jalan itu. Pirda itu putra Ki Orbus yang terakhir. Orangnya memang penakut. Tapi entahlah, angin mana yang membuat ia berani berjalan sendirian. Dan saat ia melintasi daerah yang kami pasangi orang-orangan itu, persis kedua matanya melirik, ia berteriak menangis, berlari terkencing-kencing. Baut ngakak. Aku dan Haphap Khan juga Suzukieks saling tatap. Situasi darurat.
Ki Orbus marah bukan main. Secepat kilat beliau mengumumkan kemarahannya di suraunya.
Para warga, malam ini juga kalian harus berkumpul. Aku sedang marah.
Seluruh warga terbirit-birit mendatangi surau Ki Orbus.
Kurang lebih kalimat itu yang kami dengar malam itu. Suaranya lantang keluar dari corong surau. Maklum saja corongnya tinggi. Ditaruh di pohon beringin. Itu pun masih ditambah dua ruas bambu. Sialnya, jika angin kencang corongnya sering roboh. Tiap kali hujan lebat pasti disambar petir. Yang menjadi korban adalah kami, pasti beliau akan marah-marah meminta uang corong untuk membeli yang baru. Kalau tidak salah hitung, surau Ki Orbus selama setahun corongnya diganti sampai sembilan puluh sembilan kali.
Kalau marah beliau tidak akan mengajari kami mengaji. Dia tidak akan mengajari kami mengaji jika ada satu saja orang yang tidak membayar uang corong. Parahnya, jika beliau marah, kumisnya yang tebal melintang pasti meliuk ke atas. Jenggotnya yang tinggal tujuh itu bergoyang-goyang seperti kegirangan.
Beberapa menit para warga berkumpul dan mencari hantu di jalan angker yang kami pasangi orang-orangan itu. Kami tidak tahu dan tidak sadar kalau Ki Orbus dan para warga hendak mencari hantu di persimpangan jalan itu.
Baut berlari mengambil orang-orangan, mengambil tenang seolah tidak ada beban. Kami ikut berlari. Dan tanpa kami sadari, dari belakang suara Ki Orbus seperti petir yang menyambar telinga kami bertiga. Dia membentak kami habis-habisan. Baut. Dimana dia. Secepat kilat ia menghilang. Sialnya, kami yang jadi korban.
Ah, Baut, dialah temanku yang paling kocak dan selalu memunculkan ide-ide gila. Tapi di balik kegilaanya ada jutaan ide yang terpendam untuk membangun bangsa ini. Entahlah. Suatu saat kalian akan tahu.
***
Haphap Khan.
Aku dan Baut menyebutnya sebagai anak penakut. Wajahnya asli seratus persen seperti masa-masa penjajahan tempo dulu. Persis seperti para anggota terhormat para pekerja paksa yang diterapkan kolonial. Jika bahagia wajahnya tetap seperti orang tidak makan berbulan-bulan. Apalagi terkena masalah, wajahnya jangan ditanya.
Ia pecinta warna merah. Bajunya merah. Celananya merah. Sampai kepada ayam jagonya pasti warna merah. Sempat pada suatu waktu hujan deras mengguyur kampung kami. Angin berdesau-desau. Petir menyambar-nyambar. Bunyi geledak menggelegar-gelegar. Waktu itu kami bertiga duduk santai di bawah pohon. Kilat petir menyambar kami. Haphap Khan panik bukan main. Ia lari terbirit-birit. Aku dan Baut ikut berlari (waktu itu tidak ada Suzukieks). Kilat petir mengikuti langkah Haphap Khan. Baut menyarankan dari belakang untuk berlari berliuk-liuk. Haphap Khan pun berlari berliuk. Tikung kanan, tikung kiri. Aku dan Baut mati-matian menahan tawa. Tapi kilat petir itu tetap saja menyambar-nyambar Haphap Khan. Haphap Khan dilanda panik yang sangat dahsat.
Baut menyarakan lagi untuk membuka baju dan celananya sebab kata orang-orang di kampung kami petir marah besar dengan warna merah. Haphap Khan menatap ragu ke arah kami. Baut meyakinkan. Tanpa berpikir lagi Haphap Khan langsung mengikuti saran Baut. Kami tertawa di dalam kepanikan. Namun petir bukan berhenti mengikuti Haphap Khan. Tapi petir itu semakin mengamuk. Aku panik. Baut hanya tertawa.
Haphap Khan terus berlari terbirit-birit. Wajahnya pucat seperti mayat. Dia terus berlari sekencang-kencangnya. Kami mengejarnya dari belakang. Kami tidak tahu apakah kami berlari mengejar Haphap Khan atau kami juga takut kepada petir itu. Kami terus berlari melewati rumah Ki Orbus.
Persis saat kami melintas di depan rumah Ki Orbus, Ki Orbus sedang duduk santai bersama istri dan anak-anaknya. Ki Orbus melihat Haphap Khan berlari telanjang. Beliau marah bukan main. Tanpa berpikir panjang beliau ikut mengejar Haphap Khan. Mungkin saja ia mengira Haphap Khan sedang terkena penyakit gila.
Ki Orbus meloncat dari halaman rumahnya, sepasang matanya juga mau ikutan meloncat, tapi tidak bisa keluar dari cangkangnya. Dia ikut mengejar Haphap Khan dengan marah. Ia mendengus-dengus. Istri dan anak-anak-anaknya tertawa bercampur takut. Tertawa melihat Haphap Khan yang berlari tanpa baju dan celana. Takut karena Ki Orbus yang juga ikut mengejar Haphap Khan.
Kepanikanku berlipat-lipat. Haphap Khan jangan ditanya. Si Baut, anak yang kenak penyakit gila itu tertawa riang kegirangan dikejar guru ngaji kami. Ia berlari sambil terkekeh-kekeh. Lagi-lagi kami terperangkap ide gila Baut.
Kabar baiknya, petir berhenti mengamuk dan mengejar-ngejar kami. Kabar buruknya, Ki Orbus mendengus-dengus dari belakang. Sampai akhirnya kami tertangkap. Ki Orbus marah bukan main. Kepalanya seperti hendak keluar tanduk. Kedua bola matanya berapi-api, mungkin saja karena tidak bisa keluar dari cangkangnya. Haphap Khan menangis. Aku bingung. Baut diam. Aku tidak tahu apa dia panik atau tidak.
Ki Orbus hebatnya bukan main. Petir mulai tadi mengejar kami. Tapi setelah Ki Orbus datang dan ikut mengejar kami, petir jadi takut. Ki Orbus hebat ditakuti sama petir.
Kalimat itu yang langsung diucapkan oleh Baut saat kami bertiga terperangkap. Sontak saja kami langsung bertepuk tangan memberi apresiasi. Ki Orbus diam mendengarkan. Beliau tersenyum. Mungkin saja beliau tersanjung.
Dan ajaibnya, Ki Orbus tidak jadi marah setelah mendengar sanjungan dari Baut. Beliau ganti kemarahannya dengan tertawa. Giginya yang tinggal dua kelihatan sekali. Persis saat kedua giginya dipertontonkan, petir menyambar lagi. Kami berempat berlari kucar-kacir.
***
Dan inilah kami sekarang. Tiga sahabat yang terlahir dari karakter yang berbeda. Tapi bersatu untuk membangun Indonesia.
Ada Keri si pemilik ide gila. Tapi lihatlah dia sekarang. Dia sukses di bidang usaha. Ia mengelola sumber daya alam bangsa ini menjadi bermanfaat. Memiliki banyak pekerja. Mengurangi angka pengangguran. Mencabut satu persatu akar kemiskinan.
Ada Dula yang penakut. Tapi pandanglah ia sekarang. Ia sukses di bidang hukum. Ia menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Dula yang dulunya penakut tapi sekarang ia tidak pernah gentar. Dialah hakim yang selalu berada digarda terdepan dalam menindak para tikus-tikus berdasi. Dialah yang tidak pernah megenal kata takut dalam menumpas dedengkot bangsa ini.
Dan lihatlah aku sekarang. Seorang anak kepulauan yang sukses di bidang akademis. Aku menjadi guru besar ilmu tata negara. Tulisanku dimana-mana mengkritik ketidak adilan. Tulisan-tulisanku berserakan membangunkan rakyat dari lelapnya kebodohan dan ketakutan. Tulisanku tersebar luas mengajak bangsa yang besar ini untuk bersatu. Meski kita berbeda-beda tapi kita harus b-e-r-s-a-t-u. Karena itulah kunci kemajuan bangsa, bukan?
Kawan.
Kamilah anak kepulauan yang juga berhak mencintai Indonesia. Kamilah anak kepulauan yang berkewajiban menyuarakan persatuan. Kamilah anak kepulauan yang lahir dari sekolah kecil dan terbelakang. Tapi sekarang…
Benar apa kata Pak Jawarez.
Bukan sekolah yang harus besar tapi hati, hati, dan hati.[]

