Sebenarnya dia ingin mengatakan begini.
“Aku pernah terluka dan aku belum sembuh dari itu.”
Ungkapan ini sering di ucapkan oleh seseorang yang mulai mengalami patah hati akibat gagal move on.
Ungkapan perempuan semuanya sama, kesimpulan cepat dari bukti yang sedikit sering kali menyesatkan.
Kalimat itu bukan tentang perempuan, tapi tentang rasa sakit yang masih ngilu di hati dan belum selesai.
Padahal tidak semua perempuan sama,yang kelam itu adalah kisah bukan semista.
Ungkapan “semua perempuan sama” biasanya lahir dari kekecewaan, luka, atau pengalaman buruk yang sangat kuat.
Namun, secara logis dan emosional, ungkapan ini tidak tepat dan cenderung dipicu oleh generalisasi berlebihan.
Generalisasi sering lahir dari luka, bukan logika.
Manusia tidak membuat generalisasi besar karena akal sehat, tetapi karena pengalaman kuat—terutama yang menyakitkan.
Memiliki pengalaman Diselingkuhi,cinta cuma omong kosong.
Ditipu satu orang,semua orang sama saja.
Ini bukan fakta, tetapi mekanisme perlindungan diri dengan ungkapan yang tidak benar.
Bahaya utama generalisasi berlebihan.
Ketika generalisasi diterapkan pada sifat, karakter, gender, suku, agama, atau individu, ia mudah berubah menjadi penilaian yang tidak adil.
Misalkan.
Satu orang menyakitiku.
Semua perempuan/laki-laki sama.
Ini adalah bentuk emosi yang berubah jadi ‘kebenaran palsu dan tidak bisa di tanamkan dalam hati.
Generaslisasi
Menutup peluang mengenal orang baik.
Membuat kita defensif dan sulit percaya.
Sebaiknya Gunakan generalisasi sebagai peta, bukan sebagai tembok.
Jangan sampai Menanamkan luka menjadi keyakinan.
Ketika seseorang mengatakan “semua perempuan sama,itu sering menandakan,seseorang itu belum betul betul sembuh dari luka hati akibat gagal dalam sebuah percintaan atau gagal dalam berumah tangga.
Orang tersebut mungkin pernah dikhianati, dimanfaatkan, atau dikecewakan sehingga emosinya menyamaratakan semua perempuan.
Secara alami, otak manusia memang suka menyederhanakan sesuatu.
Daripada berkata “semua perempuan sama”, lebih tepat.
Aku cuma salah memilih.
Tidak semua perempuan sama — aku hanya pernah bertemu yang salah.
Pengalaman burukku mempengaruhi cara pandangku, tapi aku berusaha memperbaikinya.