“Maafkan aku, Yanti. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.” Suara itu, meski pelan disampaikan, bagai suara petir yang memekakkan telinga Yanti. Menatap tidak percaya. Tidak. Ini pasti bercanda. Yanti menggeleng tidak percaya. Tersenyum manis, karena ia tahu Afiq adalah jago membuat kejutan yang mengagetkan.
“Cerita indah ini tidak bisa dilanjutkan. Aku tidak ingin memiliki istri dari…” Terhenti. Tercekat. Afiq tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
“Kamu bercanda kan, Kak Afiq?” Yanti menatap lamat-lamat, satu tetes air mata bersiap jatuh di pelupuk matanya.
Menggeleng. “Tidak. Aku tidak bercanda. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini karena kamu adalah putri dari…” Terhenti lagi. Tercekat kembali. Afiq benar-benar tidak mampu mengungkapkan fakta itu.
“Kenapa, Kak Afiq?” Dan bulir-bulir bening yang tadi bermain-main di pelupuk mata itu sudah tergelincir, meluncur deras.
“Musuh selamanya adalah musuh. Kamu dan keluargamu sampai kapanpun adalah musuh bagiku. Itulah janjiku, Yanti.” Afiq sudah berjalan mundur, menunjuk-nunjuk wajah Yanti, lantas berlari, pergi dari pantai itu. Emosi itu sudah sepenuhnya mengendalikan Afiq.
Yanti bergidik mendengar kalimat menyakitkan itu. Menggeleng tidak percaya. Tapi apa mau dikata jika semuanya sudah terjadi. Tuhan punya cerita yang berbeda. Tapi tidak, Yanti tidak akan putus asa begitu saja. Ia berlari mengejar Afiq, berteriak-teriak memanggil namanya. Tidak peduli tatapan orang. Tidak peduli cibiran pengunjung pantai.
“Berhenti. Berhenti mengejarku. Berhenti menyebut namaku. Aku tidak sudi namaku disebut oleh anak seorang pembunuh.” Astaga Afiq…Tuhan, anak itu sudah keterlaluan. Ia sudah lepas kontrol.
Demi mendengar kalimat memilukan itu, hati Yanti sudah tercabik sepenuhnya. Hati itu sudah luka berdarah-darah. Dan mata itu, mata indah yang dimana tempat berlabuhnya gemintang, mata itu sudah kebocoran air matanya dan kehilangan gemintangnya.
“I… izinkan Yanti.” Terhenti. Isak tangis yang menghentikan. “… memelukmu.” Terhenti. Sedu pilu yang membuat suaranya terhenti. “… untuk yang terakhir kalinya.”
Afiq menggeleng tegas.
Yanti memaksa, merengek memohon. Sekali lagi. Berulang kali. Dan bahkan berkali-kali. Hening. Senyap. Afiq tetap saja menggeleng.
“Ku mohon, Kak Afiq. Kumohon, Kak.”
Tanpa jawaban, tanpa izin, Yanti sudah berhambur memeluk Afiq. Hangat. Lega. Nyaman. Dan betapa tentamnya perasaan Yanti. Ia merasakan surga.
Sayang, Afiq hanya memberi waktu lima belas detik. Lalu hampa. Yanti kehilangan surga.
Hey, lihat ayo lihat, ombak itu terhenti bergelombang. Sepertinya ia menyaksikan kisah indah berujung duka itu. Maka pelukan di bibir pantai itu, pelukan yang disaksikan gelombang ombak itu, pelukan itu adalah pelukan yang terakhir.
***
Kali ini Yanti benar-benar sendiri. Menatap kosong pigora yang terpajang rapi di dinding kamarnya. Rintik hujan terdengar berirama menari di atas genting rumahnya. Dingin tiba-tiba menyergap tubuhnya, membawa bius sepi di setiap sudut hatinya. Di pigora itu ia menemukan senyum Afiq seperti nyata di depannya. Tidak mungkin. Yanti tahu itu hasil kreatifitas ilusi hayalannya, maka cepat-cepat ia berpindah menatap sebuah kado mini.
Yanti beranjak mendekat, perlahan membuka. Lantas dengan mata terpejam dan napas yang tertahan, gadis itu pelan membuka cincin yang memeluk jemari manisnya. Terpejam. Menahan napas. Menghadirkan ulang cerita lalu yang teramat indah untuk dikenang. Air mata itu saling susul menyusul menggelinding. Ia mengenang saat-saat Afiq memasang cincin ke jemari manisnya waktu berada di pantai Telaga Daya.
Dan malam ini, di balik rintik gerimis, semuanya harus selesai. Ia akan mendatangi Afiq, memberi penjelasan bahwa bukan ayahnya yang membunuh ayah Afiq. Berharap semuanya bisa diperbaiki. Namun jika sebaliknya, jika semuanya berakhir dengan air mata, maka ia akan pergi jauh dari kampung halaman, pergi jauh dari jejak kenangan indah yang berujung duka itu.
Maka malam itu Yanti bergegas pergi menuju rumah Afiq.
“Kak Afiq, ini Yanti Aleza, Kak. Keluarlah!” Yanti berteriak-teriak di depan pintu rumah Afiq. Satu-dua rinai hujan menerpa rambutnya.
Tidak ada jawaban. Sepi.
Yanti mengulangi lebih keras. Tiga-empat gerimis membasahi wajahnya.
Tidak ada jawaban. Lengang.
“Kak Afiq, keluar dong, Kak Afiq! Yanti merindukanmu. Yanti hanya ingin bertemu Kak Afiq untuk yang terakhir kalinya karena besok pagi Yanti harus take off menuju Prancis.” Yanti kembali berteriak lebih lantang.
Gerimis itu sudah menjadi hujan, mengguyur sekujur tubuh Yanti.
Hening. Tak ada jawaban. Yang ada hanya suara geledek terdengar memekakkan telinga, kilatnya menyambar-nyambar, sesekali membentuk akar-akar pohon besar di ujung cakrawala. Angin mendesau kencang, membuat daun-daun bergoyang. Membayangkan saja ngerinya bukan main. Tapi tidak untuk Yanti. Itu bukan masalah. Demi Afiq, apapun akan ia lakukan.
Terisak pelan. Air matanya telah menyatu dengan air hujan. “Yee, Kak Afiq ingkar janji. Katanya tidak akan pergi karena masih ada banyak janji yang belum ditepati.” Pelan kalimat itu tersampaikan, bahkan nyaris tak terdengar. Seperti berbisik dalam derasnya hujan malam.
Gadis itu sudah putus asa. Putus asa dengan harapan yang tidak pasti. Gadis itu sudah lelah. Lelah menanti seseorang yang tidak akan membukakan pintu. Gadis itu sudah menyerah. Menyerah untuk membangun lagi mimpi-mimpi indahnya.
Baiklah. Saatnya pulang membawa segores luka. Saat itulah, saat gadis itu takluk dengan rasa putus asa, saat gadis itu disergap lelahnya menanti, saat gadis itu bulat untuk menyerah, sepasang matanya menatap tulisan yang terpajang di pintu.
Maaf, rumah ini terlalu suci untuk diinjak oleh keluarga pembunuh.
Maka hati itu tidak hanya tergores luka tapi sudah hancur berkeping.
Kak Afiq, sebesar apakah dendammu kepada keluargaku? Jika membunuhku adalah harga untuk menghapus dendam itu, maka aku, demi mewakili permintaan maaf keluarga besarku, rela menjadi tebusannya.
Yanti Aleza.
Yanti menulis kalimat itu tepat di bawah kalimat yang ditulis Afiq. Lantas pulang dengan langkah terhuyung. Lihat, air mata duka itu mengiringi langkahnya. Sesenggukan. Terisak.
Malam itu adalah malam sejuta air mata. Malam itu adalah malam sejuta duka. Di taman mini yang dulunya menjadi tempat merajut janji-janji setia, menyulam harapan-harapan indah, cerita cinta itu sudah berakhir. Menyisakan lembar-lembar kenangan indah yang selamanya tidak akan terlupakan dalam ingatan mereka. Forever. Episode indah itu sudah di ujung kisah. Esok-esok, bersama terbit dan terbenamnya matahari, kisah baru akan tergores dalam harian mereka, meski dengan hati yang berbeda. Dan perasaan itu tidak akan sama, tidak akan pernah seindah hari-hari kemarin. Selamat jalan cerita cinta. Selamat datang kenangan duka.[]
bersambung. ..
